SINDROM BRUGADA (BRUGADA SYNDROME)

 

Sindrom Brugada (Brugada Syndrome) merupakan gangguan jantung serius yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Penderita Sindrom Brugada memiliki peningkatan risiko irama jantung yang tidak normal yang menyebabkan irama atau detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur sehingga dapat  membuat jantung tidak bisa memompa darah ke seluruh tubuh secara optimal. Gejala ini dapat terjadi tiba-tiba dan dapat mengakibatkan dampak yang sangat fatal dan bisa mengancam nyawa seseorang.

Sindroma ini sering kali tidak terseteksi dan kebanyakan penderita tidak menyadari adanya sindroma tersebut pada dirinya. Kelainan ini sebenarnya dapat terdeteksi melalui elektrokardiografi (EKG)/”rekam jantung”, yaitu peralatan medis sederhana yang berfungsi merekam irama jantung. Abnomalitas irama jantung sindrom Brugada adalah adanya blok berkas jantung kanan (Right Bunddle Branch Block, RBBB) dengan elevasi segmen ST di sandapan jantung kanan yang kadang tidak kentara.

Sindrom ini merupakan salah satu penyebab utama kasus kematian mendadak pada anak muda yang dinyatakan sehat dan tidak mengalami gangguan jantung. Yang lebih mengkhawatirkan, kasus kematian yang disebabkan oleh sindrom Brugada sering terjadi secara tiba-tiba, tanpa menujukkan gejala sama sekali, terkadang terjadi pada saat tidur.

 

Gejala Sindrom Brugada

Penderita Sindrom Brugada ( Brugada Syndrome ) seringkali tidak menunjukkan gejala. Pasien umumnya baru terdeteksi saat melakukan tes EKG (“rekam jantung”). Namun pada beberapa penderita, Sindrom Brugada dapat menunjukkan gejala yang tidak jauh berbeda dengan penderita penyakit jantung lainnya, antara lain:

  • Sesak napas
  • Detak jantung tidak beraturan (palpitasi)
  • Pingsan
  • Detak jantung sangat cepat dan kacau (serangan jantung mendadak)
  • Kejang

 

Faktor Risiko sindrom Brugada

Faktor-faktor risiko Sindrom Brugada ( Brugada Syndrome ) meliputi:

  • Riwayat Keluarga. Jika anggota keluarga lainnya pernah memiliki sindrom brugada, maka risikonya lebih tinggi.
  • Laki-laki dewasa lebih sering didiagnosis daripada wanita. Pada anak-anak dan remaja, namun, anak laki-laki dan perempuan yang didiagnosis pada tingkat yang sama.
  • Sindrom Brugada lebih sering terjadi pada Ras Asia dibanding Ras lain.
  • Demam. Sementara demam tidak menyebabkan sindrom Brugada dengan sendirinya, demam dapat mengganggu jantung dan merangsang Brugada, yang dipicu pingsan atau gagal jantung secara tiba-tiba, terutama pada anak-anak.

 

Pengobatan Sindrom Brugada

Meskipun belum ada pengobatan yang tepat dan benar-benar mencegah terjadinya sindrom ini. Upaya yang dapat dilakukan pada penderita sindrom Brugada adalah pemasangan alat cardioverter-defibrilator (implantable cardioverter defibrillator/ICD).

 

***